Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Tak terasa, 15 Mei kemarin merupakan peringatan Nakba Day yang kedelapan kalinya bagiku. Nakba yang diartikan sebagai bencana bagi warga Negara Palestina mengingat di hari inilah 64 tahun yang lalu mereka mulai terusir dari kampung halamannya sendiri akibat aneksasi yang dilakukan Zionis Israel. Peringatan Nakba Day sendiri memiliki sisi historis bagiku. Peringatan inilah yang menjadi pintu gerbang awal pengenalanku terhadap Palestina secara lebih mendalam. Perkenalan yang terjadi saat aku masih duduk kelas 1 SMA di kota Apel, Malang.

Bersekolah di sekolah berlabel Islam berasrama dengan kultur tarbiyah sejatinya membuatku tak asing lagi dengan termin-termin seperti Palestina, Al Quds, Hamas, Gaza dan Al Aqsha. Nasyid yang diputar di lingkungan asrama tiap harinya melalui speaker Masjid dari jam 05.30 hingga 06.30 pun selalu berisi syair mengenai Palestina. Bahkan para murabbi kami yang notabene adalah aktifis dakwah kampus di Unibraw dan Ummuh Malang tak bosan-bosannya menekankan tentang pentingnya posisi Masjidil Aqsha bagi Umat Muslim. Namun waktu itu aku masih belum mengapresiasi terhadap hal-hal semacam ini. Sampai akhirnya momen itu tiba! Lanjut Baca »

Waktu masih menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat, namun kami bertiga belum berpikir untuk melepaskan selimut. Angin pegunungan yang masuk melalui celah-celah ventilasi rumah cukup membuat kami betah berlama-lama di dalam selimut walau cuaca di luar sana relatif cerah. Secangkir kopi hangat dan sepiring ubi goreng rupanya tak mampu menahan aliran hawa dingin merasuk ke sumsung tulang. Bu Shinta, pemilik rumah tempat kami tinggal yang sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri berkali-kali menawarkan air panas untuk mandi sore. Tawaran yang langsung kuiyakan, walaupun salah seorang teman yang telah sering pergi ke Bromo menganjurkan untuk mandi menggunakan air dingin demi merasakan sensasinya. Lanjut Baca »

Semburat fajar itu kemudian merekah merah di atas sisa-sisa erupsi, dingin udara yang membandel menembus 3 lapis jaket seolah tak terasa, terganti oleh keindahan ayat-ayat kauniah-Nya, and here i’m! Bromo! didominasi oleh 85% wisatawan asal mancanegara sudah cukup menjadi postulat tentang keindahan alam Tengger, dan psstt.. kalo anda perhatikan salah satu scene foto yang diambil dari atas tangga, ada seorang jilbaber di sebelah kiri sedang mengabadikan alam bromo dengan HP-nya, asal tahu aja dia berasal dari Jerman :) (gak penting banget)

Selasa, 6 Maret 2012 kemarin saya dan beberapa teman berkesempatan untuk menonton film Negeri 5 Menara di salah satu bioskop di Yogyakarta. Selain karena penasaran akan isi cerita dari film yang disebut-sebut sedikit berbeda dengan versi novelnya (begitu yang dipaparkan oleh sang penulis novel dalam acara di stasiun televisi swasta pagi harinya), momen tersebut juga akan saya gunakan untuk sedikit bernostalgia tentang masa-masa “prihatin” dahulu di pesantren.

Tak diduga, kami bertemu beberapa kawan yang bisa dikatakan aktif di kegiatan kampus di lobbi bioskop. Hipotesis awal saya mengatakan bahwa mereka-mereka ini sedang mencari dorongan semangat untuk menyelesaikan skripsi mereka yang tak kunjung usai. Maklum, sebagian besar diantaranya sudah duduk di semester 10. Dan film Negeri 5 Menara dengan mantra terkenalnya “Man Jadda wa Jadda” agaknya cukup untuk dijadikan sebagai sebuah faktor pendorong. Di samping itu, agak terkejut pula saya melihat banyaknya animo masyarakat yang ingin menonton film yang sama. Pemandangan yang mungkin berbeda seandainya saat itu saya berada di Surabaya di bioskop dengan merk yang sama.

Akhirnya film pun diputar tepat pukul 20.20. Harapan saya untuk sedikit bernostalgia mengenang masa-masa di pesantren lumayan dapat terobati. Hampir semua plot cerita dalam film tersebut pernah saya alami, tentunya di lokasi yang berbeda. Alif Fikri dan saya sama-sama merasa terzalimi ketika harus memasuki dunia baru (baca:pesantren). Ehm, lulus SMP paling favorit di Sidoarjo, sebenarnya secara de facto dan de jure saya sudah bisa dipastikan masuk ke SMA paling favorit pula di Sidoarjo. Adegan berikutnya sudah dapat anda tebak sendiri. Namun paling tidak ada sejumlah kesamaan yang ada di antara kami berdua, saya dan Alif Fikri (sok akrab) di luar impian kami sedari kecil yang sama-sama ingin memasuki kampus ITB, tentunya dengan cerita yang lebih konyol bin ajaib, yakni sebagai berikut: Lanjut Baca »

Optimisme itu membungbung tinggi. Bayangan tentang apa yang akan kami lakukan nanti di atas puncak menari-nari di kepala. Andong bukan gunung yang asing bagi kami. Setidaknya 2 tahun lampau setengah dari kami pernah menikmati panorama Salatiga, Magelang dan Temanggung dari puncak. Terabadikan oleh rekam visual yang mengagumkan. Andong dapat dikatakan sebagai gunung yang ramah pada wisatawan yang hendak mendaki. Jalur berupa tangga dari semen yang dibangun oleh warga sudah cukup menjadi bukti.  Andong juga bukan pula gunung yang terlalu tinggi. Angka 1600 dpl sudah cukup untuk menggambarkan betapa ramahnya gunung dengan tipe perisai ini.

Usai santap malam dengan susah payah di lokasi perkemahan, kami segera berkemas dan bersiap melakukan pendakian. Susah payah karena kompor gas yang kami bawa dari rumah tiba-tiba saja tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Selama 1 jam energi ini terbuang dengan percuma. Segala eksperimen terhadap sang kompor bermuara pada kegagalan, bahkan hampir saja meledakkan tabung gas yang kami miliki. Salah seorang pegunjung yang berkemah tak jauh dari tenda yang kami dirikan berinisiatif meminjamkan kompor gas yang dimilikinya. Bahkan memasakkan untuk kami, sekalipun hanya berupa air matang. Ah, ikatan persaudaraan itu kutemukan kembali di dunia mayapada. Lanjut Baca »

Adian Husaini pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya, para pelaku dakwah dapat dibedakan menjadi 3 tipe. Tipe pertama adalah tipe penceramah. Mereka yang termasuk ke dalam golongan ini adalah mereka-mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam retorika, namun minim karya tulis ilmiah. Tipe kedua kebalikan dengan tipe yang pertama, yakni tipe wartawan. Mereka tidak memiliki kelebihan dalam retorika public, namun mempunyai keunggulan dalam menghasilkan karya-karya tulis ilmiah. Sedangkan tipe yang ketiga adalah kombinasi di antara keduanya.

Jujur saja  saya merasa bingung harus dimasukkan ke tipe yang mana nama saya. Kemampuan orator tidak punya. Karya tulis pun hanya bisa kuhasilkan secara berkala, kala-kala terbit, kala-kala pula tidak. Apalagi dengan kombinasi keduanya.

Dengan kondisi yang seperti itu, saya sempat agak khawatir ketika harus mendapatkan amanah di bulan Ramadhan 1432H kemarin. Awalnya karena sudah bosan dengan suasana ramadhan di kampus, saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi sukarelawan dalam kepanitiaan pesantren kilat SD-SMP-SMA di Yogyakarta. Tidak ada dalam benak pikiran saya kalau nantinya saya bakal diplot untuk menjadi salah satu tenaga pengajar. Maka ketika panitia menunjuk saya dan beberapa ikhwah lainya dari UGM untuk menjadi pengajar, saya sempat merasa cemas. Apalagi yang harus saya ajar adalah teman-teman  SMA 3 Yogyakarta yang terkenal cerdas dan kritis (ehm… walaupun sejatinya saya lebih cerdas di atas mereka). But the show must go on. Jangan lari dari kenyataan, begitulah kata hati saya. Lanjut Baca »

Sebagai sebuah entitas mahasiswa muslim yang berada dalam lingkup Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta diakui oleh rektorat, Lembaga Dakwah Kampus Jamaah Shalahuddin (selebihnya biasa disingkat dengan nama JS) tidak lepas dari berbagai fitnah yang menderanya. Banyak asumsi-asumsi tak berdasar yang dituduhkan kepada JS. Ironisnya asumsi-asumsi ini tidak hanya datang dari masyarakat awam saja, namun juga dari sesama lembaga pergerakan Islam yang notabene memiliki visi serta visi yang sama. Saya yang sudah 4 tahun berada di sana tahu betul bahwa JS tidak seperti yang dipersepsikan oleh kebanyakan orang. Berikut adalah beberapa persepsi mengenai JS yang orang keliru tentangnya.

1. Jamaah Shalahuddin memiliki pemahaman radikal
Radikal secara bahasa berarti akar atau sesuatu yang mendasar. Sedangkan radikalisme sendiri bermakna berfikir secara mendalam dalam menelusuri suatu akar masalah. Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) radikal diartikan sebagai sesuatu yang mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Dari pengertian tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa radikal, dalam konteks Islam, memiliki pengertian sebagai suatu konsep yang dijadikan dasar dalam mempelajari ajaran Islam (dalam hal ini adalah tauhid). Semua elemen umat Islam bersepakat bahwa tauhid adalah sesuatu yang pokok/mendasar dalam Islam. Sehingga dengan demikian tidak ada yang salah dengan pemikiran radikal. Justru pemikiran ini kita perlukan sebagai dasar untuk mempelajari agama islam dengan baik dan benar. Jika perkara yang pokok (ushul) sudah bermasalah, bagaimana dengan perkara-perkara yang cabang (furu’)? Oleh sebab pemikiran radikal sama sekali tidak bermasalah. Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.